Contact

Rabu, 15 September 2010

Dalam Kegelapan Malam

Dalam Kegelapan Malam

Di malam yang sunyi sepi ini...
Aku tersandar dalam bumi pertiwi....
Tak tau kemana harus melangkah....
Tak tau kepada siapa harus berpasrah...

Sunyi....sepi....gelap...
Kini yang kurasakan....
Ketakutan yang mendalam....
Hati yang tertujam.....
Keindahan lalu sirna begitu saja....
Lenyap entah kemana...

Oh Malam...
Mengapa kau kini berubah?
Yang dulu terang kini menjadi kelam...
Yang dulu putih kini menjadi hitam....

Oh malam....
Apa pertanda yang kau kirimkan ini?
Apakah ini pertanda waktu kan berhenti?

Oh...tuhan... berikanlah ku kekuatan...
Tuk hadapi semua masalah dan cobaan...

Sahabat Sejati part 1

Sahabat Sejati
Oleh Suhartono

Betapa enak menjadi orang kaya. Semua serba ada. Segala keinginan terpenuhi. Karena semua tersedia. Seperti Iwan. Ia anak konglomerat. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mobil mewah dengan supir pribadi.
Meskipun demikian ia tidaklah sombong. Juga sikap orang tuanya. Mereka sangat ramah. Mereka tidak pilih-pilih dalam soal bergaul. Seperti pada kawan kawan Iwan yang datang ke rumahnya. Mereka menyambut seolah keluarga. Sehingga kawan-kawan banyak yang betah kalau main di rumah Iwan.
Iwan sebenarnya mempunyai sahabat setia. Namanya Momon. Rumahnya masih satu kelurahan dengan rumah Iwan. Hanya beda RT. Namun, sudah hampir dua minggu Momon tidak main ke rumah Iwan.
“Ke mana, ya,Ma, Momon. Lama tidak muncul. Biasanya tiap hari ia tidak pernah absen. Selalu datang.”
“Mungkin sakit!” jawab Mama.
“Ih, iya, siapa tahu, ya, Ma? Kalau begitu nanti sore aku ingin menengoknya!” katanya bersemangat
Sudah tiga kali pintu rumah Momon diketuk Iwan. Tapi lama tak ada yang membuka. Kemudian Iwan menanyakan ke tetangga sebelah rumah Momon. Ia mendapat keterangan bahwa momon sudah dua minggu ikut orang tuanya pulang ke desa. Menurut kabar, bapak Momon di-PHK dari pekerjaannya. Rencananya mereka akan menjadi petani saja. Meskipun akhirnya mengorbankan kepentingan Momon. Terpaksa Momon tidak bisa melanjutkan sekolah lagi.
“Oh, kasihan Momon,” ucapnya dalam hati,
Di rumah Iwan tampak melamun. Ia memikirkan nasib sahabatnya itu. Setiap pulang sekolah ia selalu murung.
“Ada apa, Wan? Kamu seperti tampak lesu. Tidak seperti biasa. Kalau pulang sekolah selalu tegar dan ceria!” Papa menegur
“Momon, Pa.”
“Memangnya kenapa dengan sahabatmu itu. Sakitkah ia?”
Iwan menggeleng.
“Lantas!” Papa penasaran ingin tahu.
“Momon sekarang sudah pindah rumah. Kata tetangganya ia ikut orang tuanya pulang ke desa. Kabarnya bapaknya di-PHK. Mereka katanya ingin menjadi petani saja”.
Papa menatap wajah Iwan tampak tertegun seperti kurang percaya dengan omongan Iwan.
“Kalau Papa tidak percaya, Tanya, deh, ke Pak RT atau ke tetangga sebelah!” ujarnya.
“Lalu apa rencana kamu?”
“Aku harap Papa bisa menolong Momon!”
“Maksudmu?”
“Saya ingin Momon bisa berkumpul kembali dengan aku!” Iwan memohon dengan agak mendesak.
“Baiklah kalau begitu. Tapi, kamu harus mencari alamat Momon di desa itu!” kata Papa.
Dua hari kemudian Iwan baru berhasil memperoleh alamat rumah Momon di desa. Ia merasa senang. Ini karena berkat pertolongan pemilik rumah yang pernah dikontrak keluarga Momon.
Kemudian Iwan bersama Papa datang ke rumah Momon di wilayah Kadipaten. Namun lokasi rumahnya masih masuk ke dalam. Bisa di tempuh dengan jalan kaki dua kilometer. Kedatangan kami disambut orang tua Momon dan Momon sendiri. Betapa gembira hati Momon ketika bertemu dengan Iwan. Mereka berpelukan cukup lama untuk melepas rasa rindu.
Semula Momon agak kaget dengan kedatangan Iwan secara mendadak. Soalnya ia tidak memberi tahu lebih dulu kalau Iwan inginberkunjung ke rumah Momon di desa.
“Sorry, ya, Wan. Aku tak sempat memberi tahu kamu!”
“Ah, tidak apa-apa. Yang penting aku merasa gembira. Karena kita bisa berjumpa kembali!”
Setelah omong-omong cukup lama, Papa menjelaskan tujuan kedatangannya kepada orang tua Momon. Ternyata orang tua Momon tidak keberatan, dan menyerahkan segala keputusan kepada Momon sendiri.
“Begini, Mon, kedatangan kami kemari, ingin mengajak kamu agar mau ikut kami ke Bandung. Kami menganggap kamu itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana Mon, apakah kamu mau?” Tanya Papa.
“Soal sekolah kamu,” lanjut Papa, “kamu tak usah khawatir. Segala biaya pendidikan kamu saya yang akan menanggung.”
“Baiklah kalau memang Bapak dan Iwan menghendaki demikian, saya bersedia. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak yang mau membantu saya.”
Kemudian Iwan bangkit dari tempat duduk lalu mendekat memeluk Momon. Tampak mata Iwan berkaca-kaca. Karena merasa bahagia.Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali. Ternyata mereka adalah sahabat sejati yang tak terpisahkan.
Kini Momon tinggal di rumah Iwan. Sementara orang tuanya tetap di desa. Selain mengerjakan sawah, mereka juga merawat nenek Momon yang sudah tua

Persahabatan? tak semudah yang dibayangkan

kadang kita membayangkan persahabatan adalah hal yang menyenangkan dan mengasikkan.
sahabat yang baik, ramah,mau mengerti kita.
yang selalu ada di sisi kita saat kita sedang mengalami masalah.
yang mau membantu..
mengerti kita..
menyinari dunia kita yang kelam..
saat tak ada setitik sinar menerangi..
membuat kita slalu dapat tersenyum setiap waktu..
tapi kadang sahabat juga dapat membuat kita menangis.
mengores luka dihati.
menginggalkan noda di sanubari..
air mata bercucuran, karna sahabat..
bertubi-tubi masalah mulai menyapa..
mulai dari masalah kecil..
hal percintaan, perbedaan pendapat, kebohongan hingga perubahan sikap dari sahabt itu sndiri..
kebohongan yang disembunyikan sahabat kita..
rasa tak saling terbuka..
kadang membuat kita membenci sahabat kita..
tapi, dibalik itu smua, persahabatan tetaplah persabahatan..
yang merupakan suatu ikatan abadi..
yang tak terpisahkan oleh jarak, dan waktu.
tapi, apakah masalah yang besar tidak akan merusak persahabatan?
apakah kita tetap dia saja menghadapi mslh tersebut?
hanya karna tak mau ikatan persahabatan itu putus?
SAHABAT..
SAHABAT..
satu kata yang terpikir dalam ingatan kita tentang sahabat:
"MENGASIKKAN"

pelajaran yang dapat dita ambil dari catatan ini:
TERIMALAH SAHABAT APA ADANYA, MESKIPUN IA MEMBUATMU MENANGIS
KARNA BAGAIMANAPUN DIA ADALAH SAHABATMU
HILANGKAN SUATU HAL YANG DAPAT MERUSAK PERSAHABATANMU


TETAP SEMANGAT KAWAN!
BAGAIMANAPUN, DI DUNIA INI HIDUP TAK KAN INDAH TANPA SAHABAT,,

Selasa, 14 September 2010

Arti sebuah Kasih Sayang

Awan menebal, sinar matahari mulai memanas. Waluyo yang sedang duduk dipematang sawah pun terdiam. Sambil meminum secangkir air yang dibawanya ia memandang sawahnya. Heran dengan hasil panennya.
“Le, kamu itu kenapa to?”, tanya ibunya sambil duduk disamping Waluyo.
“Endak opo-opo bu, cuma melihat sawah kita itu lo”, jawab Waluyo sampil menunjuk ke arah sawahnya.
“O, itu le, sawah kita memang sedang panen melimpah, kita juga mesti bersyukur kepada tuhan atas rezeki yang kita dapatkan ini”, sahut ibunya.
“Iya bu, kita juga tidak boleh putus asa dan harus bekerja keras”,jawab Waluyo
Tak terasa hari pun mulai petang, Waluyo dan ibunya kembali ke rumah.
Jam mulai menunjukkan angka 9, keadaan desa mulai sepi, sedangkan Waluyo dan ibunya tertidur lelap. ditengah-tengah tidur Waluyo, tiba-tiba pintu rumah terketuk. “thok...thok...thok.. Waluyo...”, suara parau itu muncul.
Dengan penasaran, terpaksa Waluyo membukakan pintu.
“Siapa yang datang malam-malam begini?”, heran Waluyo dalam hati.“Krek...”, suara pintu terbuka.
“Oh, kamu Mark, dikira siapa?”, kata Waluyo sambil membuka pintu.
“Kenapa kamu datang malam-malam begini?”, tanya Waluyo denga penuh penasaran
“Sebenarnya aku tidak tega datang malam-malam begini ke rumahmu, tapi aku sedang marah sama mamaku, yang semalam aku tunggu kepulanggannya, saat ku sambut mamaku, tiba-tiba ia marah.
Huh...Sebel!”, jawab Mark dengan hati kesal
“Jadi alasan kamu kemari hanya karena kamu marah sama mamamu?”, kejut Waluyo
“Aku kesini hanya ingin menenangkan diriku dulu, bolehkan Wal?.”, jawab Mark
“Jadi begitu, ya sudah cepat masuklah, biar kuambilkan minuman buat kamu.”, sambut Waluyo dengan senang hati
Pagi pun mulai datang, kokok ayam mulai terdengar. Waktu telah menunjukkan pukul 05.00, Ibu Waluyo tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Tempe, tahu goreng. Menu istimewa kesukaan Waluyo.
“Ayo makan Wal!, ajak Mark sekalian makan bersama kita!”, perintah ibu Waluyo
“Baik bu.”, jawab Waluyo
“Ayo Mark makan! Ibuku sudah siapkan sarapan buat kita. Tapi maaf kalo lauknya hanya sederhana.”, bujuk Waluyo
“O, ya, baik. Tidak apa-apa. Makasih banget lo Wal. Malah jadi ngrepotin kamu to?”, sahut Mark.
“O, tidak apa-apa. Enggak nrepotin kok. Kami malahan senang kamu bisa main kesini.”, jawab Waluyo.
Dilain tempat, ibu Mark mulai cemas, dari tadi malam ia tidak bisa tidur karena memikirkan nasib anaknya. Ia menyesal telah menelantarkan anaknya selama ini, ia merasa ia lebih disibukkan dengan pekerjaannya sendiri.
Sudah beberapa hari ini pula, Ibu Mark tidak masuk kantor dan terus mencari keberadaan Mark. Keadaannya semakin parah, sakit yang dideritanya saat ini belum sembuh-sembuh.
Dilain tempat, Mark membantu Waluyo dan Ibunya untuk memanen sawahya, disinilah Mark mendapatkan pelajaran berharga, tentang artinya kebersamaan keluarga juga arti kasih sayang Orang Tua Waluyo kepada sahabatnya itu. Ia mulai menyadarai, bahwa ia juga harus mengerti posisi mamanya saat ini, betapa mamanya bekerja banting tulang untuk menghidupi dirinya.
“Kasihan mereka, meskipun pendapatnya pas-pasan Waluyo tetap mendapatkan kasih sayang dari ibunya, sedangkan aku?, pikir Markdalam hati
Tapi dihati kecilnya sebenarnya ia juga bisa mengerti keadaan mamanya yang bekerja membanting tulang setelah papanya meninggal.
Mulai sore itu juga, Mark berniat untuk pulang kembali ke rumahnya, ia khawatir akan mamanya yang terus gelisah memikirkannya.
“Wal, ku sore ini mau kembali ke rumahku, aku sadar semua, mamaku bersikap seperti itu karena ia menyayangiku”, kata Mark dengan hati yang mantap
“Baik kalau itu maumu, itu memang lebih baik.”, jawab Waluyo mendukung keputusan sahabatnya
Setelah itu, Mark pun berpamitan kepada Ibu Waluyo.
“Hati-hati dijalan, Mark”, kata ibu Waluyo dengan wajah tersenyum
Sesampainya di rumah, Mark pun cepat-cepat menemui ibunya. Ia terkejut, ibunya sedang terbaring lemah ak berdaya, badannya semakin kering. Dengan niat setulus hati, Mark pun meminta maaf kepa ibunya, Mark menyesal dengan semua anggapannya selama ini, ia menganggap ibunya sudah tak memperdulikannya lagi.
Penuh isak tangis, Mark dan Ibunya saling meminta maaf. Menyesali semua perbuatan yang dilakukannya. Setelah periatiwa itu, perubahan pun terjadi dengan pesat. Ibunya manjadi lebih memperhatikan Mark, sesibuk apapun pekerjaan Ibu Mark, ia selalu menyediakan waktu bersama dengan Mark.
Dan sekarang, itulah ibu yang diidam-idamkan Mark selama ini.