“Le, kamu itu kenapa to?”, tanya ibunya sambil duduk disamping Waluyo.
“Endak opo-opo bu, cuma melihat sawah kita itu lo”, jawab Waluyo sampil menunjuk ke arah sawahnya.
“O, itu le, sawah kita memang sedang panen melimpah, kita juga mesti bersyukur kepada tuhan atas rezeki yang kita dapatkan ini”, sahut ibunya.
“Iya bu, kita juga tidak boleh putus asa dan harus bekerja keras”,jawab Waluyo
Tak terasa hari pun mulai petang, Waluyo dan ibunya kembali ke rumah.
Jam mulai menunjukkan angka 9, keadaan desa mulai sepi, sedangkan Waluyo dan ibunya tertidur lelap. ditengah-tengah tidur Waluyo, tiba-tiba pintu rumah terketuk. “thok...thok...thok.. Waluyo...”, suara parau itu muncul.
Dengan penasaran, terpaksa Waluyo membukakan pintu.
“Siapa yang datang malam-malam begini?”, heran Waluyo dalam hati.“Krek...”, suara pintu terbuka.
“Oh, kamu Mark, dikira siapa?”, kata Waluyo sambil membuka pintu.
“Kenapa kamu datang malam-malam begini?”, tanya Waluyo denga penuh penasaran
“Sebenarnya aku tidak tega datang malam-malam begini ke rumahmu, tapi aku sedang marah sama mamaku, yang semalam aku tunggu kepulanggannya, saat ku sambut mamaku, tiba-tiba ia marah.
Huh...Sebel!”, jawab Mark dengan hati kesal
“Jadi alasan kamu kemari hanya karena kamu marah sama mamamu?”, kejut Waluyo
“Aku kesini hanya ingin menenangkan diriku dulu, bolehkan Wal?.”, jawab Mark
“Jadi begitu, ya sudah cepat masuklah, biar kuambilkan minuman buat kamu.”, sambut Waluyo dengan senang hati
Pagi pun mulai datang, kokok ayam mulai terdengar. Waktu telah menunjukkan pukul 05.00, Ibu Waluyo tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Tempe, tahu goreng. Menu istimewa kesukaan Waluyo.
“Ayo makan Wal!, ajak Mark sekalian makan bersama kita!”, perintah ibu Waluyo
“Baik bu.”, jawab Waluyo
“Ayo Mark makan! Ibuku sudah siapkan sarapan buat kita. Tapi maaf kalo lauknya hanya sederhana.”, bujuk Waluyo
“O, ya, baik. Tidak apa-apa. Makasih banget lo Wal. Malah jadi ngrepotin kamu to?”, sahut Mark.
“O, tidak apa-apa. Enggak nrepotin kok. Kami malahan senang kamu bisa main kesini.”, jawab Waluyo.
Dilain tempat, ibu Mark mulai cemas, dari tadi malam ia tidak bisa tidur karena memikirkan nasib anaknya. Ia menyesal telah menelantarkan anaknya selama ini, ia merasa ia lebih disibukkan dengan pekerjaannya sendiri.
Sudah beberapa hari ini pula, Ibu Mark tidak masuk kantor dan terus mencari keberadaan Mark. Keadaannya semakin parah, sakit yang dideritanya saat ini belum sembuh-sembuh.
Dilain tempat, Mark membantu Waluyo dan Ibunya untuk memanen sawahya, disinilah Mark mendapatkan pelajaran berharga, tentang artinya kebersamaan keluarga juga arti kasih sayang Orang Tua Waluyo kepada sahabatnya itu. Ia mulai menyadarai, bahwa ia juga harus mengerti posisi mamanya saat ini, betapa mamanya bekerja banting tulang untuk menghidupi dirinya.
“Kasihan mereka, meskipun pendapatnya pas-pasan Waluyo tetap mendapatkan kasih sayang dari ibunya, sedangkan aku?, pikir Markdalam hati
Tapi dihati kecilnya sebenarnya ia juga bisa mengerti keadaan mamanya yang bekerja membanting tulang setelah papanya meninggal.
Mulai sore itu juga, Mark berniat untuk pulang kembali ke rumahnya, ia khawatir akan mamanya yang terus gelisah memikirkannya.
“Wal, ku sore ini mau kembali ke rumahku, aku sadar semua, mamaku bersikap seperti itu karena ia menyayangiku”, kata Mark dengan hati yang mantap
“Baik kalau itu maumu, itu memang lebih baik.”, jawab Waluyo mendukung keputusan sahabatnya
Setelah itu, Mark pun berpamitan kepada Ibu Waluyo.
“Hati-hati dijalan, Mark”, kata ibu Waluyo dengan wajah tersenyum
Sesampainya di rumah, Mark pun cepat-cepat menemui ibunya. Ia terkejut, ibunya sedang terbaring lemah ak berdaya, badannya semakin kering. Dengan niat setulus hati, Mark pun meminta maaf kepa ibunya, Mark menyesal dengan semua anggapannya selama ini, ia menganggap ibunya sudah tak memperdulikannya lagi.
Penuh isak tangis, Mark dan Ibunya saling meminta maaf. Menyesali semua perbuatan yang dilakukannya. Setelah periatiwa itu, perubahan pun terjadi dengan pesat. Ibunya manjadi lebih memperhatikan Mark, sesibuk apapun pekerjaan Ibu Mark, ia selalu menyediakan waktu bersama dengan Mark.
Dan sekarang, itulah ibu yang diidam-idamkan Mark selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar